free html hit counter

Prostitusi Selbar Nan Bebas hingga Diiklankan Layar Kaca

BeritaBintang –    SECARA perlahan, Selandia Baru (Selbar) mulai menyaingi Australia sebagai destinasi wisata di Oseania bagi para turis Asia, hingga Eropa dan Benua Amerika.

Selbar sebagai destinasi pelesiran yang terbilang anyar, tak lepas dari peran sejumlah situs dan tempat pembuatan film box office ternama.

Sebut saja film-film franchise “The Lord of the Rings”, di mana Ibu Kota Wellington dan Kota Queenstown merupakan dua dari berbagai lokasi pembuatan filmnya selain di Gunung Tongariro.

Mau lihat situs rumah-rumah Hobbit yang turut jadi bagian film garapan Peter Jackson? Di Matamata, kawasan Waikato, tepatnya dua jam dari Auckland, Selbar lokasinya.

Cukup bicara tentang “The Lord of the Rings”, Negeri Kiwi yang belum lama ini mengganti bendera nasionalnya itu juga dikenal dengan wisata seksnya. Untuk diketahui, sejak 2003 Selbar baru melegalkan prostitusi, berdirinya rumah bordil, serta bisnis mucikari.

Sejak saat itu, rumah-rumah bordil hingga kios-kios pijat ‘plus-plus’ meningkat jumlahnya dan tak lagi beroperasi secara terselubung. Sedari kala itu pula, Selbar jadi salah satu negara paling liberal soal bisnis ‘esek-esek’ dengan berupa-rupa bentuk.

Perubahan lewat “Prostitution Reform Act”, membolehkan para pekerja seks komersial (PSK) berusia 18 tahun ke atas, mendapat pengakuan, hak-haknya serta akses perlindungan kepolisian.

Kini, para PSK jalanan juga bebas menjajakan transaksi seks pada malam hari di beragam “red-light district” atau lokalisasi, baik di Wellington, Auckland, hingga Christchurch.

Spot-spot PSK jalanan di Auckland sendiri biasanya marak di area-area seperti Karanghape Road, Hunters Corner. Sementara di Wellington, bisnis seks berpusat di pusat kota, tepatnya di sudut Jalan Cuba dan Marion.

Adapun di Christchurch, para kupu-kupu malam ini biasanya ‘mangkal’ di Ferry Road dan Manchester Street.

Tidak hanya PSK jalanan dan rumah bordil, di Selbar juga marak terkait eksisnya biro-biro “escort” atau wanita pendamping, serta klub-klub striptis (penari telanjang), hingga klub-klub “swinger” atau pertukaran pasangan.

Meningkatnya wisata seks di Selbar juga tak lepas dari peran periklanan. Ya, prostitusi di Selbar turut diiklankan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik sebagai pemandu singkat para turis yang “buta” akan kawasan di Selbar.

Seperti dikutip gonewzealand.about, sejumlah rumah bordil dan biro wanita pendamping, relatif mudah ditemukan lewat internet, koran-koran nasional maupun lokal, majalah, hingga iklan di televisi yang biasanya ditayangkan channel-channel lokal pada tengah malam.

Di sisi lain sebagaimana di beberapa negara, prostitusi anak di bawah umur juga jadi pekerjaan rumah tersendiri buat otoritas Selbar. Beberapa waktu silam, lembaga swadaya masyarakat (LSM) penentang PSK anak, ECPAT New Zealand, sempat mencatatkan adanya 210 PSK anak.

Mereka berusia di bawah 18 tahun dan bahkan pada beberapa kasus di Auckland, ditemukan PSK anak berumur 10,11 hingga 13 tahun. Diduga kuat, kebanyakan dari mereka dijadikan PSK oleh anggota-anggota geng.

Meski otoritas Selbar beberapa kali melancarkan razia dan menangkapi para PSK anak yang menjajakan diri di pinggir jalan, namun eksistensi PSK anak dan pelajar masih muncul secara terselubung.