free html hit counter

Perubahan Nama Awali Malapetaka Jutaan Warga Kamboja

BeritaBintang –  Perubahan Nama Awali Malapetaka Jutaan Warga Kamboja

Nama mengandung doa. Akan tetapi, perubahan nama yang terjadi di Kamboja pada 5 Januari 1976 justru menjadi awal dari malapetaka. Pergantian nama dari Kamboja menjadi Kampuchea itu malah membawa negara tersebut mundur kea bad pertengahan.

Pemimpin Khmer Merah, Pol Pot, memutuskan mengganti nama Kamboja ke Kampuchea demi melegalkan pemerintah berpaham komunis yang diperjuangkannya. Pria yang lahir pada 1925 dengan nama Saloth Sar itu kelak mengendalikan Kampuchea dengan tangan besi.

Pol Pot sebenarnya lahir dari keluarga yang berada. Namun, ketika muda, ia tertarik dengan gerakan komunis saat menempuh pendidikan di Paris, Prancis. Setelah kembali ke Kamboja yang baru meraih kemerdekaan dari Prancis pada 1954, karier Pol Pot di Partai Komunis langsung menanjak.

Terpengaruh oleh tokoh komunis China Mao Zedong, Pol Pot memutuskan tinggal di wilayah terpencil bersama para pendukungnya pada dekade 1960. Ia pun dijuluki sebagai Kakak Pertama.

Pada 1970, penguasa Kamboja, Pangeran Norodom Sihanouk, dikudeta oleh kelompok pro-Amerika. Merasa mendapat angin, Khmer Merah dengan bantuan kelompok komunis Vietnam, melancarkan perang saudara terhadap pemerintah Kamboja baru di bawah pimpinan Lon Nol.

[Baca Juga -“Penjaga Bank Saksikan Kembang Api di Tahun Baru, Uang Rp1 M Dicuri“]

Khmer Merah pimpinan Pol Pot pun akhirnya berhasil mengambil alih Ibu Kota Phnom Penh setelah bertempur selama lima tahun. Lelah dengan segala bentuk konflik, sebagian besar dari 2 juta warga Phnom Penh menyambut baik Khmer Merah yang dianggap sebagai pembebas serta akan membawa revolusi sosial. Harapan hanya tinggal harapan belaka.

Melansir dari Judi Bola, Jumat (5/1/2018), Pol Pot memiliki ambisi untuk membangun negara berbasis agraria atau pertanian dengan petani sebagai ujung tombak. Akan tetapi, impian itu hanya utopia belaka hingga berubah menjadi salah satu genosida mengerikan.

Warga Kamboja dipaksa untuk tinggal di pedesaan dan bekerja di komune tanpa pandang bulu. Golongan berpendidikan dan orang-orang kaya dibunuh. Sekolah, media, rumah sakit, benda-benda kebudayaan, agama, dan properti pribadi dihapuskan.

Akibatnya, puluhan ribu warga Kamboja mati karena kelaparan. Tidak terhitung jumlah warga Kamboja yang meninggal dunia akibat terkena penyakit serta menjadi korban dari kerja paksa atau dibunuh oleh tentara Khmer Merah. Kondisi tersebut berlangsung selama 1975-1978.

Pada Desember 1978, terjadi konflik di kawasan Indo-China di mana Vietnam menginvasi Kamboja. Pol Pot lantas melarikan diri ke Thailand dan menghabiskan hampir 20 tahun di persembunyiannya. Si kakak pertama diketahui memiliki persembunyian di Thailand dan Kamboja utara serta dilindungi oleh para pendukungnya dan militer Thailand.

Pol Pot pada akhirnya berhasil ditangkap oleh anggota Partai Komunis Kamboja pada 1997. Ia didakwa berkhianat pada negara dan partai. Pol Pot meninggal dunia pada 15 April 1998 karena penyebab alami. Ia pergi untuk selamanya tanpa pernah mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.