free html hit counter

Perdebatan Karpet Merah di Pintu Masuk DPR Kembali Mencuat

BeritaBintang – Perdebatan mengenai karpet merah di Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen kembali mencuat. Karpet merah tersebut ditujukan untuk pimpinan parlemen yang akan menuju ruang kerjanya melalui lift.

Awalnya, Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang yang merasa risih dengan adanya karpet merah tersebut. Ia pun mengkritik penggunaan karpet merah yang terus dipakai meskipun tidak ada tamu negara. “Kalau ada tamu negara baru dipasang karpet merah. Jangan jadi pimpinan DPR, kamu pikir orang hormat gara-gara karpet,” kata pria yang akrab dipanggil OSO itu, Senin (31/8/2015).

OSO pun meminta karpet merah tersebut dicabut. Pasalnya, banyak pengunjung yang lalu lalang di Gedung Nusantara III DPR menjadi terganggu. “Kita tunjukkan dekat dengan rakyat,” katanya.

Pernyataan OSO itupun kemudian ditanggapi oleh DPR. Sekjen NasDem Patrice Rio Capella mendukung ucapan Wakil Ketua MPR itu. “Kami tidak tahu maksudnya kenapa karpet tidak dicopot.Tamu negara kan tidak setiap hari, kita jadi memutar,” keluh Anggota Komisi III DPR itu di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (1/9/2015).

Sedangkan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menanggapi karpet merah itu. Ia mengungkapkan hal itu merupakan persoalan lama. Bahkan ia mengakui tidak pernah melalui karpet merah bila menuju ruangannya. Menurut Politikus PAN itu, karpet merah disediakan oleh pihak kesekjenan DPR.

“Pimpinan tidak menyediakan untuk pimpinan DPR, saya tidak pernah lewat karpet merah,” ungkapnya.

Kritik keras juga disampaikan oleh anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul. Ia mengaku sudah lama mengkritik adanya penggunaan karpet merah tersebut.

“Saya yang pertama. Malu saya. Setya Novanto harus dihormati dengan karpet merah. Presiden saja tidak. Ingin dihormati, prestasi dong, kalau mau dihormati,” kata Juru Bicara Demokrat itu.

telah memberitakan adanya karpet merah yang terbentang sepanjang sekitar 25 meter disertai tiang pembatas di setiap sisi. Hal itu membuat orang biasa tidak dapat sembarang berlalu lalang.

Karpet merah itu biasanya digelar DPR menyambut tamu kenegaraan atau parlemen negara asing. Awalnya, karpet tersebut dibentangkan pada April 2015 sebelum pelaksanaan Konferensi Asia Afrika. Tetapi karpet merah itu belum juga dilepas hingga kini.

Pada saat itu, Kepala Staff Kepresidenan Luhut Panjaitan mendapatkan salam hormat dari Pamdal DPR sebelum melakukan rapat konsultasi dengan Ketua DPR Setya Novanto terkait persiapan KAA.
Saat rapat konsultasi antara DPR dan Presiden Joko Widodo terkait polemik pencalonan Kapolri, karpet merah juga dibentangkan di Gedung Nusantara IV DPR. Pada saat itu barisan pengamanan dalam (Pamdal) DPR memberikan salam hormat kepada Presiden Jokowi.‎

“Mereka yang jaga dan beri penghormatan itu pilihan,” kata Kepala Bagian Pamdal Sekretaris Jenderal DPR, Tamamudin kala itu.‎

Pemandangan itu kembali terlihat saat Ketua DPR Setya Novanto memasuki Gedung Nusantara III DPR menuju ruang kerjanya pada Kamis (7/5/2015). Turun dari mobilnya, Setya Novanto disambut barisan Pamdal yang berbaris rapi. “Siap, grak,” kata Pamdal sambil memberi hormat.