free html hit counter

Pejabat Kemlu AS Tekan FBI demi Lindungi Hillary Clinton

BeritaBintang – Pejabat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Amerika Serikat (AS) Patrick Kennedy, dituduh berupaya menekan Biro Investigasi Federal (FBI) untuk melindungi Hillary Clinton dalam skandal e-mail. Pria berusia 67 tahun itu dinilai ingin melindungi atasannya yang kala itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.

Kennedy meminta FBI menarik kecurigaan terhadap server pribadi yang digunakan Hillary saat menjabat sebagai Menlu dengan menyebut informasi di dalamnya bersifat sangat rahasia. Fakta itu terungkap dalam dokumen penyelidikan FBI yang dirilis Senin 17 Oktober 2016.

Seperti dimuat Agen Judi Online, Selasa (18/10/2016), salah satu pejabat FBI menuturkan, Kennedy berulang kali menekan beberapa pejabat FBI untuk memindahkan sejumlah pesan berlabel rahasia di salah satu e-mail Clinton. Pesan tersebut berisi informasi mengenai serangan mematikan untuk Perwakilan AS di Benghazi, Libya, pada 2012.

Juru Bicara Kemlu AS Mark Toner menuturkan, Kennedy tidak berusaha untuk menekan FBI, tetapi hanya ingin memantau sejauh mana proses klasifikasi FBI bekerja. Sebab, dokumen tersebut ternyata berasal dari FBI, artinya biro investigasi itu punya hak menentukan kerahasiaan dokumen.

Sengketa bermula pada musim panas 2015. Saat sejumlah pejabat FBI sedang sibuk meninjau ulang 30 ribu e-mail Hillary, tiba-tiba saja puluhan ribu e-mail tersebut dikembalikan ke Kemlu jelang rilis ke publik sesuai perintah pengadilan dalam dua termin, yakni 2015 dan 2016.

Pejabat FBI itu menuturkan, Kantor Penasihat Hukum Kemlu memanggilnya untuk menanyakan apakah FBI telah mengklasifikasi informasi tersebut. FBI sendiri tetap pada keputusan mereka. Setelahnya Linkalternatif.info, Kennedy menelefon salah satu agen FBI untuk meminta bantuan dengan mengubah-ubah klasifikasi e-mail Hillary.

Panggilan tersebut dinilai sebagai upaya Kennedy melindungi Clinton dengan seminimal mungkin menampilkan informasi rahasia di e-mail yang berasal dari server pribadinya. Hillary sendiri telah meminta maaf dan menyadari kesalahannya karena menggunakan server pribadi di rumahnya untuk urusan pekerjaan sebagai Menteri Luar Negeri pada 2009-2013.