free html hit counter

Movie Review: Kembalinya Raja Arthur dan Pedang Legendaris

BeritaBintangMovie Review: Kembalinya Raja Arthur dan Pedang Legendaris

Legenda tentang pedang bernama Excalibur dan Raja Arthur memang bukan cerita baru yang diangkat menjadi sebuah film. Kisah ini sudah berulang kali diangkat tentu saja dengan berbagai versi. Namun, dari sekian banyak film tentang Raja Arthur dan Excalibur, film berjudul King Arthur: Legend of the Sword mungkin menjadi salah satu yang terbaik.

Banyak hal yang membuat film ini layak disebut sebagai sebuah film baik. Dari segi cerita, kita sudah pasti akan mengetahui bagaimana Arthur, yang terbuang sejak kecil, dari bukan siapa-siapa menjadi seorang Raja yang dicintai oleh rakyatnya. Premis standar, di mana kebaikan akan menang melawan kejahatan, sudah menjadi konsumsi pasti dalam film yang mengangkat kisah ini.

Akan tetapi, pujian harus disematkan kepada Guy Ritchie karena sukses membuat film ini begitu hidup dan nyata. Bukan soal bagaimana cara Arthur mendapatkan tahta dan pedang Excaliburnya lagi, mantan suami Madonna ini menyajikan visualisasi jalan cerita yang begitu indah dan lengkap dari segi skenario.

Bagian awal film dibuka dengan awal mula cerita antara Raja Uther (Eric Bana) menghentikan langkah Modred dalam menguasai dunia. Modred adalah penyihir jahat yang haus akan kekuasaan. Padahal sebelumnya kaum manusia dan penyihir hidup damai dan tenteram tanpa peperangan.

[ Baca Juga : ” Kalahkan Spurs di Game Keempat, Rockets Kini Samakan Kedudukan Jadi 2-2 ” ]

Raja Uther akhirnya harus turun dari kekuasannnya setelah Vortigen (Jude Law) berkhianat dan bekerja sama dengan Modred. Ia pun akhirnya menjadi Raja di Camelot meski dengan cara tidak pantas. Sementara itu Arthur kecil harus diselundupkan ke dalam sebuah perahu agar tidak dibunuh oleh Vortigen.

Tumbuh di lingkungan pelacuran membuat Arthur menjadi licik dan belajar banyak tentang bagaimana cara bertahan hidup. Sedikit demi sedikit ia pun menjadi lihai dan menjadi pemuda kuat yang menguasai wilayahnya. Jauh dari kehidupan kerajaan, tempat di mana ia seharusnya tinggal dan besar, Arthur menjadi pahlawan kecil di lingkungannya.

Saat Uther meninggal, ia mewariskan pedang Excalibur kepada Arthur kecil. Pedang dengan kekuatan besar tersebut akhirnya tertancap pada diri Uther yang di nafas terakhirnya menjadi batu. Barang siapa yang mampu menarik pedang legendaris tersebut dari batu Uther, maka ia akan memiliki kekuatan besar warisan Uther, sekaligus menjadi buronan nomor satu Vortigen.

Pemilihan Charlie Hunnam sebagai Arthur sendiri adalah poin terbesar Rithcie dalam film ini. Rasanya tak ada yang akan lebih tepat memerankan karakter Arthur selain dirinya. Hunnam bisa bertransformasi dari seorang pemuda liar, banyak omong, licik, dan keras kepala menjadi seorang Raja bijaksana yang ditakuti oleh lawan namum dicintai oleh rakyatnya.

Jangan lupakan juga para pemeran pendukung di dalam film ini. Bedivere (Djimon Hounsou), Rubio (Freddie Fox), Percival (Craig McGinlay), Gill (Aidan Gillen), George (Tom Wu), Wet Stick (Kingsley Ben-Adir), Back Lack (Neil Maskell), dan The Mage (Astrid Berges-Frisbey) silih berganti melengkapi keseruan film ini. Aksi perangnya, koreografinya, cara pengambilan gambar saat berkelahinya, dan bahkan unsur komedinya terasa sangat pas. King Arthur: Legend of the Sword adalah sebuah film peperangan yang terasa santai dengan celetukan-celetukan British yang selalu mengundang gelak tawa.

AGEN BOLA memberikan nilai 8 untuk King Arthur: Legend of the Sword. Bagi Anda yang sudah tak sabar menyaksikannya, film berdurasi dua jam ini sudah bisa dinikmati di bioskop-bioskop di Indonesia. Beruntung rasanya karena Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat keuntungan dapat menyaksikan film ini lebih dulu karena di Amerika Serikat sendiri, film ini baru mulai tayang pada tanggal 12 Mei 2017