free html hit counter

Berita Bintang – Mendengar Warna-Warni Vira Talisa dalam ‘Primavera’

Berita BintangMendengar Warna-Warni Vira Talisa dalam ‘Primavera’

Setelah kurang lebih enam tahun aktif bermusik, solois Vira Talisa akhirnya merilis album perdana bertajuk ‘Primavera’. Perilisan itu bukan yang pertama untuknya, pada 2016 lalu ia sempat merilis album mini bertitel penamaan diri sendiri.

Sejak merilis album mini, Vira identik dengan genre retro pop. Ia memiliki sederet lagu berbahasa Inggris. Gaya bermusiknya seperti banyak dipengaruhi musisi lawas, seperti Peggy Lee, Herbie Hancock, Aretha Franklin dan The Cordettes.

Vira sempat menjelaskan bahwa Primavera adalah album yang personal baginya. Berisikan delapan lagu yang ditulis berdasarkan sudut pandang pribadi, yaitu Primavera, Janji Wibawa, Through the Shades of Paradise, He’s Got Me Singin Again, Bunga, Down in Vieux Cannes, For the Time Being dan Matahari.

Lagu For the Time Being menjadi lagu yang pertama ia tulis untuk album ini, bercerita tentang refleksi diri mengenai apa saja yang sudah dilewati. Sementara He’s Got Me Singin Again bertutur mengenai peran pemain bas tambahannya sekaligus kekasihnya, Radityo Joko Bramantyo.

Bila dibandingkan, secara keseluruhan album Primavera berbeda dengan album mini penamaan diri sendiri. Perbedaan tersebut terlihat dalam gaya bermusik, gaya bernyanyi dan penulisan lirik.

Mari mulai dari gaya bermusik. Dalam Primavera musisi asal Jakarta ini masih konsisten mengusung genre retro pop, namun ada sedikit sentuhan samba dan bossa nova pada beberapa lagu.

Lagu Primavera misalnya, lagu yang ditempatkan di urutan nomor satu ini kental dengan sentuhan samba, terasa dari ketukan drum yang cukup cepat. Sementara gitar elektrik dengan efek yang terdengar bulat mewakili retro pop.

Hal serupa juga terasa pada lagu Bunga. Tidak satu lagu penuh, tetapi hanya pada bagian tengah lagu. Tepatnya menit 1 detik 58 dan menit 2 detik 58.

Kemudian pada lagu Down in Vieux Cannes nada bossa nova kental terasa melalui suara drum dan bass. Suara gitar elektrik berefek dengan petikan yang tidak terlalu kencang kembali mewakili retro pop.

Keputusan Vira mengkombinasikan retro pop dengan samba dan bossa nova adalah keputusan yang tepat. Primavera jadi terasa berwarna dan tidak membosankan saat didengarkan.

Dari situ bisa disimpulkan pula bahwa kemampuan bermusik Vira berkembang. Tidak menutup kemungkinan ia akan mengusung genre berbeda pada karya-karya berikutnya yang dilansir oleh Casino Online.

Berikutnya adalah gaya bernyanyi. seperti pada lagu Primavera di mana Vira terdengar bernyanyi dengan menahan napas sehingga suaranya terdengar sengau. Teknik itu berbeda dengan gaya bernyanyi dalam album mini penamaan diri sendiri yang lebih lepas.

[ Baca Juga Berita Bintang : ” ‘Jon Snow’ Bocorkan Episode Terbaru ‘Game of Thrones’ ” ]

 

Selain di Primavera, suara sengau Vira juga terasa pada lagu Through the Shades of Paradise, Down in Vieux Cannes dan For the Time Being. Suara sengau itu kurang enak didengar karena terasa memaksakan, seperti orang yang sedang ngeden saat buang air.

Sementara pada lagu lain, suara Vira terndengar baik-baik saja. Seperti yang terdengar di Janji Wibawa, He’s Got Me Singin Again, Bunga dan Matahari. Suara Vira pada sederet lagu tersebut lebih baik daripada gaya sengau.

Entah apa alasan Vira bernyanyi dengan gaya yang berbeda dalam satu album. Kemungkinan ia ingin memberi lebih dari satu warna dalam satu album. Seperti kombinasi gene retro pop, samba dan bossa nova.

Terakhir, penulisan lirik. Vira menuliskan lirik bahasa Indonesia dalam Primavera, Janji Wibawa, Bunga dan Matahari. Semua lirik di lagu-lagu itu terdengar sederhana dan mudah dimengerti.

Ya, seperti pepatah ‘tiada gading yang tak retak’, pada album ini terdapat kekurangan dan kelebihan. Kombinasi genre retro pop, samba dan bossa nova adalah keputusan yang baik, tetapi tidak dengan gaya bernyanyi ngeden. – BINTANG BOLA