free html hit counter

Menatap Koala Mengantuk di Symbio Wildlife Park

Berita BintangMenatap Koala Mengantuk di Symbio Wildlife Park

Jam menunjukkan pukul 09.30 saat saya tiba di Symbio Wildlife Park, salah satu tempat wisata di New South Wales, Australia. Petugas dengan sigap langsung membuka pintu masuk taman margasatwa tersebut.

Saya datang bersama rombongan Tourism Australia danĀ Garuda Indonesia. Rombongan kami menjadi yang pertama menjejakan kaki lantaran tiba tepat waktu saat jam buka.

Taman margasatwa itu berada di antara Sydney dan Wollongong. Perjalanan dari Sydney memakan waktu sekitar 45 menit.

Symbio Wildlife Park buka setiap hari kecuali pada Hari Raya Natal.

Kami langsung diarahkan menuju ke kandang seekor koala. Namun, binatang ikon Australia itu tengah tertidur di dahan pohon dalam kandangnya.

Koala yang kami kunjungi itu bernama Harry dan berusia tiga tahun. Meski tengah tertidur, petugas kebun binatang tetap mempersilakan kami melihatnya dari dekat.

Kehadiran kami ternyata tak membuat dirinya terbangun. Sungguh pemandangan yang menggemaskan.

Koala memang terkenal sebagai hewan yang selalu tidur sepanjang harinya. Dalam sehari, koala bisa tidur selama sekitar 18 jam sampai 22 jam.

Bulunya cukup lembut saat saya mencoba mengelusnya. Ia memiliki lima jari dengan kukunya yang cukup panjang. Harry sempat membuka mata dan mulutnya, namun kembali meringkuk sambil memejamkan matanya.

Di Symbio Wildlife Park pengunjung diberikan kesempatan untuk melihat koala dari dekat. Mereka boleh mengelus sampai berfoto dengannya, asal tetap ditemani petugas.

Namun pengunjung dilarang memaksa koala yang sedang tidur untuk bangun lantaran perilaku tersebut bakal membuatnya marah. Cakaran kuku bisa menjadi akibatnya.

Selain Harry, ada tiga koala lainnya di kandang yang berbeda. Sama seperti Harry, ketiga koala lainnya itu tertidur pulas.

Kawanan koala liar dapat ditemukan di sepanjang daratan wilayah Timur dan Selatan Australia, menghuni Queensland, New South Wales, Victoria, dan Australia Selatan.

Setelah puas berdekatan dengan koala, kami melanjutkan ke kandang kanguru dan walabi. Terdapat sekitar 20 ekor kanguru dan beberapa ekor walabi yang dilepas bebas.

Hewan-hewan berkantong itu sengaja dilepas agar pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan mereka.

Pengunjung bisa memberi mereka makan dengan potongan rumput kering yang diberi oleh petugas. Namun tak semuanya tertarik dengan potongan rumput yang pengunjung bawa.

[ Baca Juga – ” Galeri Seni Terbaru Tukum Berada Di Rumah Pohon – Dan Anda Harus Melepas Sepatu Anda Untuk Masuk ” ]

Berita Bintang

Para kanguru justru asik sendiri dengan rumput yang ada di sekitarnya. Saat petugas kebun binatang membawa beberapa butir makananan bewarna hijau, kawanan kanguru yang tadinya cuek langsung bangkit menghampiri.

Saking sukanya kanguru dengan makanan berbentuk seperti pelet itu, kedua tangan mereka memegangi tangan pengunjung, sementara mulutnya lahap memakan satu per satu butir makan berbahan dasar rumput tersebut.

Sama seperti dengan koala, para pengunjung juga dapat berfoto bersama kanguru dan walabi. Mereka akan mudah diajak foto saat pengunjung membawakan makanan untuknya. Bisa dibilang kanguru dan walabi di sana cukup jinak.

Selepas kandang kanguru, pengunjung melewati kandang lemur, burung kakaktua, dan panda merah dilansir oleh Agen Bola.

Berita Bintang

Binatang Indonesia

Symbio Wildlife Park ternyata juga memiliki koleksi Harimau Sumatera. Terdapat sepasang harimau asal Indonesia di kebun binatang tersebut. Mereka bernama Cinta dan Jalur.

Seekor harimau yang ada di dalam kandang berlapis kaca sempat menghampiri kami. Hewan loreng itu ternyata mengeluarkan air seninya ke kaca yang tepat berada di depan kami.

Mungkin kucing besar itu ingin menandakan daerah kekuasaannya. Kami sontak tertawa melihat aksinya.

Kedua harimau itu akan dipindahkan ke Kebun Binatang Tasmania pada 31 Mei 2018. Tujuan pemindahan dua harimau ini agar masyarakat Australia lebih mengenal hewan asal Indonesia itu.

Tak hanya harimau, kucing besar lainnya, Citah juga terdapat di Symbio Wildlife Park. Sama seperti kawanan koala, mereka sedang bermalas-malasan di kandangnya.

Kucing yang dapat berlari 110-120 kilometer/jam itu sempat terbangun dan berlari ke atas sebuah batu saat mendengar suara burung-burung yang berterbangan.

Berita Bintang

Monyet terkecil

Symbio Wildlife Park juga memiliki koleksi primata. Tak tanggung-tanggung kebun binatang yang tak terlalu luas ini me melihara pygmy marmoset dan tamarin singa emas.

Kedua hewan itu termasuk monyet terkecil di dunia.

Pygmy marmoset yang memiliki panjang sekitar 12-15 sentimeter itu berbulu abu-abu. Mereka memiliki habitat di hutan hujan Amazon. Monyet kecil itu juga makan dari cairan batang pada tumbuhan berkayu.

Pygmy marmoset kerap disebut sebagai monyet jempol karena memiliki tubuh yang berukuran sebesar jari jempol orang dewasa saat masih bayi.

Sementara itu tamarin singa emas, yang masih jenis marmoset, juga memiliki ukuran cukup kecil. Bulu diseluruh tubuh tamarin berwarna oranye keemasan.

Kedua monyet itu cukup lincah di dalam kandangnya masing-masing.

Tamarin merupakan hewan asli hutan pantawi Atlantik Brasil. Tamarin singa emas adalah spesies dan salah satu binatang terlangka di dunia, dengan perkiraan populasi 1.000 di alam bebas dan 500 di penangkaran.

Tak hanya mamalia dan unggas, Symbio Wildlife Park juga memiliki koleksi reptil, seperti kura-kura, ular, hingga buaya.

Menjelang siang kebun binatang ini mulai ramai didatangi oleh pengunjung keluarga.

Harga tiket masuknya bervariasi, untuk orang dewasa sebesar AUS$34 (sekitar Rp358 ribu), anak-anak AUS$19 (sekitar Rp200 ribu), pelajar AUS$32,50 (sekitar Rp342 ribu), serta keluarga AUS$94 (sekitar Rp991 ribu).