free html hit counter

Lahir di Hari Sumpah Pemuda, Pelita Cirebon Rawat Keberagaman

BeritaBintangLahir di Hari Sumpah Pemuda, Pelita Cirebon Rawat Keberagaman

“Di era sekarang ini tujuan agama bukanlah untuk memperbanyak umat. Tapi, lebih kepada peningkatan kualitas umat beragama untuk menyelesaikan persoalan kebangsaan dan kamanusiaan”

Kutipan itu keluar dari mulut Ketua Pemuda Lintas Iman (Pelita) Perdamaian Abdurahman Wahid saat ditemui detikcom di kediamannya yang berada di Desa Wanasaba, Talun, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (26/7/2017).

Pemuda ini aktif menggaungkan kerukunan antarumat beragama. Enam tahun sudah Pelita Perdamaian berdiri.

Dibentuk di Hari Sumpah Pemuda, Pelita Rawat Keberagaman

Semangat untuk kembali menggali nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal tetap dalam genggaman Pelita Perdamaian untuk menjaga kerukunan umat beragama. Kelompok pemuda yang aktif menggaungkan pluralisme dan toleransi antarumat beragama itu diiniasi oleh para tokoh lintas agama di Cirebon.

“Cikal bakalnya Pelita Perdamaian ini dari Forum Sabtuan para sesepuh dari lintas agama yang mengkampanyekan soal kerukunan. Dirasa kurang efektif, karena sesepuh atau orang tua semua. Akhirnya, muncul gagasan untuk membentuk forum yang sama tapi digerakan oleh pemuda. Terbentuklah Pelita Perdamaian,” kata Abdurahman Wahid yang karib disapa Omen.

Omen menyebutkan lahirnya Pelita Perdamaian tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2011. Pelita Perdamaian saat ini tengah menyusun hari jadinya yang ke-7.

“Tahun sekarang rencananya perayaan di akhir tahun. Kita akan tampilkan seni tradisi dari berbagai kelompok agama, misal Hindu menampilkan Tari Puspanjali khas Bali, Katolik yang menekankan paduan suara, Islam yang identik dengan genjring, barongsai dari Konghucu, dan lainnya,” ucap Omen.

Omen menjelaskan pesan perdamaian bisa dikampanyekan melalui media seni dan budaya, selain kampanye melalui tulisan dan kegiatan. Dalam kegiatan, sambungnya, Pelita Perdamaian selalu aktif untuk menggelar kegiatan perayaan hari besar, seperti hari Natal, buka puasa bersama, dan lainnya.

“Kalau bulan puasa, kita kumpul dari berbagai agama. Tujuannya, untuk menjelaskan kalau setiap agama itu memiliki metode puasa yang berbeda-beda. Buka puasa bersama, kadang di vihara, gereja, dan tempat ibadah lainnya. Ini yang paling banyak diikuti oleh publik, dan ini salah satu kampanye untuk perdamaian,” tuturnya.

Pelita Perdamaian juga fokus dalam bidang pendidikan dalam menyelesaikan konflik antarumat beragama. Kendati konflik antarumat beragama di Cirebon belum begitu menonjol, menurutnya, langkah preventif sangat penting untuk dilakukan.

[ Baca Juga : “ Akhirnya Captain Marvel Muncul di Avangers 4 “]

Tahun ini, Pelita Perdamaian membuat program pesantren lintas iman. Program tersebut, lanjut Omen, merupakan media alternatif dalam memberikan pemahaman tentang perbedaan dan pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama.  Judi Online

Omen menceritakan gagasan media pendidikan alternatif itu awalnya tak berjalan mulus. Penolakan dari berbagai kelompok agama pun sempat terjadi. Namun kerja kerasnya menuai hasil, sekitar bulan Maret hingga Mei lalu pesantren lintas iman berhasil digelar, tepatnya di Ponpes Bapenpori Al Istiqomah, Babakan, Ciwaringin, Cirebon.

Anak muda Nasrani belajar tentang studi Islam bagi pemula dan belajar tentang nilai kemanusian, kehidupan, dan bermasyarakat.

“Awalanya ditolak oleh kiai. Karena khawatir memunculkan konflik. Kami anggap itu wajar. Pesantren lintas iman ini menghadirkan satu ruang dari smua kalangan agar bisa belajar apa pun. Tapi, hanya untuk beberapa undangan dan komunitas,” katanya.

Dibentuk di Hari Sumpah Pemuda, Pelita Rawat Keberagaman

Omen menambahkan, selain di ponpes, pasantren lintas iman juga dilaksanakan di Gereja Pamitran Kota Cirebon, dengan misi yang sama. Menurutnya, dengan saling mengenal satu sama lain melalui pesantren tersebut akan mampu memberikan pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan.

“Hasil pendidikan pesantren itu muncul para agen perdamaian yang aktif mengkampanyekan perdamaian di lingkungannya masing-masing. Yang saya amati, konflik antar umat beragama itu muncul karena adanya kecurigaan terhadap orang perbedaan yang ada. Selain itu, muncul karena ujaran kebencian. Kita ingin menghilangkan kecurigiaan satu sama lainnya dengan saling menengenali perbedaan itu,” paparnya.

Selain menyoroti isu perdamaian, sambung Omen, Pelita Perdamaian juga aktif menggelar aksi kemanusian. Namun, sambungnya, saat ini masih bersifat responsif. Anggota Pelita Perdamaian saat ini berjumlah 300-an dari berbagai lintas agama. Di 2014 lalu, Pelita Perdamaian merilis buku dengan judul Merayakan Perbedaan. Buku tersebut merupakan refleksi tiga tahun Pelita Perdamaian.

Film Dokumenter

Setelah berhasil membuat buku, rencananya tahun ini Pelita Perdamaian akan merilis film dokumenter dengan judul Memilih Damai karena damai bukanlah suatu kondisi, akan tetapi damai merupakan suatu pilihan dalam hidup.

“Damai itu suatu pilihan. Jadi, kita ini mau tidak berdamai. Berawal dari pilihan ini lah damai akan tercipta,” kata Omen.

Dibentuk di Hari Sumpah Pemuda, Pelita Rawat Keberagaman

Film dokumenter yang digagas Pelita Perdamaian diangkat dari kehidupan di pondok pesantren lintas iman. Omen tak menyangka, antusias anggota dan jaringan Pelita Perdamaian antusias menyambut lahirnya film Memilih Damai.

“Hampir satu tahun menggarapnya. Sekarang sudah masuk dalam proses edting, tinggal finishing saja. Rencana akhir tahun ini kita rilis ke publik,” kata pria yang akrab disapa Omen itu.

Dibentuk di Hari Sumpah Pemuda, Pelita Rawat Keberagaman

Omen menceritakan, film Memilih Damai akan mengangkat para pelaku agen perdamaian yang mengikuti pendidikan pesantren lintas iman. Karena, para agen ini merupakan para pelajar dan mengangkat kisahnya sesuai dengan pengalaman yang ia dapat selama mengikuti pesantren lintas iman.

“Kita tanpa menyuguhi doktrin apapun. Mereka bercerita tentang pengalaman pertamanya di lingkungan yang berbeda. Misalnya, siswa dari Penabur yang membuka diri untuk bersahabat dengan muslim. Sejak kecil siswa itu hidup di lingkungan yang homogen, atau lingkungan Penabur saja,” ucapnya.