free html hit counter

Kisah Kombatan Prancis Ditipu Beland

BeritaBintang –  Pada era kolonialisme di Nusantara (Indonesia) pasca-kebangkrutan VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), Belanda butuh banyak serdadu untuk terus menancapkan kepentingannya.

Pasalnya kala itu di medio abad 19, Belanda terus menerus dirongrong perlawanan lokal, seperti di Bali, Perang Jawa, Perang Paderi, hingga Perang Aceh.

Tugas ini kemudian jadi tanggung jawab KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia-Belanda yang lahir pada 1830, atau setahun lebih awal dari terbentuknya legiun asing Prancis yang terkenal itu.

Pada awal pembentukannya, Belanda banyak merekrut orang Eropa lainnya, seperti Jerman, Swiss, Belgia dan Prancis. Dari para perekrut yang tersebar di Eropa, KNIL dipromosikan besar-besaran, di mana bagi para pelamar, dijanjikan upah yang mencapai 300 gulden.

Kala itu, angka di atas setara dengan upah buruh selama setahun. Sayang, janji tinggal janji. Banyak kisah para anggota KNIL yang tertipu dengan hal itu, seperti yang dialami orang-orang Prancis.

“Belanda saat itu membutuhkan banyak serdadu di Hindia-Belanda. Mereka banyak merekrut dari Belgia, Swiss, Prancis, dengan bayaran sampai 300 gulden,” ungkap Jean Rocher, penulis buku ‘KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis’ pada peluncuran dan diskusi terbuka bukunya di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta pada Kamis 3 Juni 2016.

“Banyak (orang) Prancis ikut KNIL, tetapi ketika tiba di Jawa, mereka kecewa karena gaji kecil, tidak seperti yang dijanjikan. (Meski begitu adanya) mereka harus tetap ikut KNIL, karena jauh untuk pulang ke Eropa. Ada desersi, tapi tidak banyak,” tandas eks atase militer Kedutaan Besar Prancis di Indonesia itu.