free html hit counter

Kelainan Aneh Saat Tidur dan Cara Mengatasinya

BeritaBintang – Beberapa orang sering merasa tidur sangat pulas, tapi tidak segar saat terbangun. Ada banyak asumsi yang dikemukakan oleh orang, terutama kesibukan pekerjaan sehari-hari.

“Orang mulai berasumsi bahwa karena kehiduoan modern kita sangat sibuk, tidak ada yang merasa istirahat cukup,” ujar seorang profesor dari Yale School of Medicine, Meir Kryger, seperti dikutip Bintangbola.

Namun, kata Kryger, pada kenyataannya seseorang kemungkinan memiliki kelainan saat tidur dan tidak menyadarinya.

Ada banyak masalah yang memicu berkurangnya kualitas istirahat sehingga badan terasa lebih letih daripada sebelum tidur. Kesalahan bisa jadi ada pada penderita. Berikut adalah beberapa kelainan tidur yang biasanya tidak disadari dan cara mengatasinya.

1. Mendengkur keras

Ketika mendengkur, sela antara lidah dan otot tenggorokan menghalangi udara yang masuk. Hal ini dapat terjadi karena langit-langit lunak atau penambahan berat badan.

Tak berpengaruh seberapa lama tidur, jika napas terbatas tentu istirahat tetap kurang. Beberapa orang bahkan kerap kali terbangun di tengah tidur. Lebih jauh, menurut penelitian terbaru dari Journal of Bone and Mineral Research, kelainan ini bahkan dapat meningkatkan risiko penyakit osteophorosis, jantung, dan stroke.

“Terbangun berkali-kali tersebut sama menjengkelkannya dengan jika seseorang menjepit hidung Anda setiap dua menit sepanjang malam,” kata kepala divisi obat tidur dari Wayne State University School of Medicine, Safwan Badr.

Cara mengatasi:
Jika merasa sangat jarang bangun dengan mata segar, segera pergi ke dokter spesialis. Mesin CPAP dan masker dapat membantu membuka faring sehingga aliran udara lancar.

Untuk menghilangkan dengkuran, hindari tidur telentang karena akan lebih menyulitkan aliran udara.

Seorang profesor neurologi dari Johns Hopkins University School of Medicine, Rachel Salas, memberikan saran untuk menjahit bola tenis ke kantong baju hangat, lalu pakai terbalik ke arah kasur. Hal ini akan membantu agar badan tidak berguling.

2. Menggertak gigi

Jika seseorang merasa rahang sakit atau sakit kepala ketika bangun, ada kemungkinan hal tersebut terjadi karena gertak gigi saat tidur.

Menurut ahli, 16 persen manusia mengalami hal ini. Kondisi ini terjadi karena kegelisahan atau konsumsi obat anti-depresan.

Cara mengatasi:
Jalan termudah adalah menemui dokter gigi yang akan memberikan pengontrol mulut.

Jika terlalu banyak pikiran, cari cara lain untuk mengatasinya. “Hal yang juga sangat krusial adalah menghabiskan cukup waktu untuk menenangkan pikiran sebelum tidur sehingga Anda dapat memasuki tahap tenang,” ucap instruktur psikiater dari Perelman School of Medicine at the University of Pennsylvania, Michael A. Grandner.

3. Jam alami tubuh mati

Orang yang tidak merasa mengantuk hingga pagi menjelang kemungkinan mengalami sindrom fase tidur terlambat (DSPS). Keadaan ini dialami oleh sepuluh persen orang yang insomnia.

DSPS merupakan gangguan biologis yang menghambat tubuh memproduksi melatonin atau hormon tidur hingga setelah tengah malam.

Salah satu gejala DSPS adalah susah mengantuk sejak usia sekolah menengah atas. Jika tidak bersin selama tujuh jam pada tengah malam, orang tersebut memiliki risiko tekanan darah tinggi dan diabetes.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa orang yang terlambat terlelap akan mudah dirasuki pemikiran negatif.

Cara mengatasi:
Kurangi kafein. Hindari peralatan elektronik dan televisi sekitar 90 menit sebelum tidur. Bangun saat matahari terbit agar ritme tidur bisa teratur. “Dalam 80 persen kasus, strategi ini dapat membuat orang tidur lebih awal,” kata Badr.

Jika cara tersebut tidak berhasil, pergilah ke dokter spesialis yang mungkin dapat memberikan pengobatan melatonin sintetis atau terapi lampu.

4. Kaki tak bisa tenang saat tidur

Keadaan kaki yang terus bergerak dan tak bisa tenang disebut Restless Legs Syndrome (RLS). Hal ini menimpa satu dari sepuluh orang yang kerap dihubungkan dengan disfungsi kerja otak.

Namun, dalam beberapa kasus juga diperkirakan ada kesalahan nutrisi. “Pada orang yang memiliki zat besi rendah, ada kelebihan aktivitas di sebagian otak yang menyebabkan perlunya menggerakkan kaki,” tutur Kryger.

Cara mengatasi:
Kantong es, kantong panas, pijatan, atau mandi bisa menjadi obat. “Setiap orang memiliki cara pengobatan berbeda,” kata profesor psikiater dari Johns Hopkins University School of Medicine, David N.
Neubauer.

Selain itu, konsultasikan dengan dokter untuk mengonsumsi obat RLS. Jangan lupa menjabarkan obat yang sedang diasup saat pemeriksaan. Pemeriksaan kadar zat besi juga sangat penting.

“Terkadang, hanya asupan suplemen yang nantinya diberikan,” ujar Neubauer.

5. Berjalan, bahkan makan saat tidur

Orang yang berjalan saat tidur disebut somnambulis. Mereka setengah merasakan rangsangan pada malam hari, terutama saat tahap tidur terdalam.

Kebiasaan ini biasa dialami oleh empat persen dari populasi. Salah satu penyebabnya asalah mengonsumi zolpidem.

Menurut penulis buku Sleep Soundly Every Night; Feel Fantastic Every Day, karya Robert S. Rosenberg, satu hingga tiga persen somnambulis biasanya pergi ke dapur untuk mencari makanan. Kondisi ini biasa dialami oleh perempuan yang sedang diet dan tidur dalam keadaan lapar.

Cara mengatasi:
Obat penenang terkadang dapat membantu. Selama aktivitas saat tertidur tidak berbahaya, tidak perlu pengobatan.

“Pastikan rumah Anda aman dengan menyimpan benda tajam di dalam tempat tersembunyi,” tutur Rosenberg.

Jika tinggal bersama orang lain, beri tahu bahwa cara terbaik untuk menanganinya adalah dengan membawa kembali somnambulis secara perlahan dan tenang.