free html hit counter

Juragan Kaskus Sundul Mimpi Jadi Inspirasi

BeritaBintang – Kaskus bukan sekadar komunitas online Bintang Bola terbesar di Indonesia yang memopulerkan jargon “sundul, gan!” Lebih dari itu, situs web gaul ini juga sarat inspirasi, terutama dari kedua pendirinya, Ken Dean Lawadinata dan Andrew Darwis.

Perjuangan kedua juragan membangun Kaskus dengan modal awal seadanya dirangkum ke layar lebar oleh sutradara oleh Naya Anindita, bekerja sama dengan perusahaan produksi 700 Pictures. Saat ini, proses syuting sudah dimulai.

Sosok Ken dan Andrew masing-masing diperankan oleh aktor muda Dion Wiyoko dan Albert Halim. Sementara kisah tentang mereka yang diangkat ke layar lebar dicuplik dari buku biografi Ken dan Kaskus karya Alberthiene Endah.

“Cerita sukses ini bisa jadi inspirasi,” kata Ken saat jumpa pers yang diadakan di kawasan Panglima Polim, Jakarta, baru-baru ini. “Kalau mau, itu pasti bisa,” lanjut Ken yang memulai usahanya dengan modal Rp 70 ribu saja.

Lewat film ini, Ken dan Andrew ingin menginspirasi penonton, khususnya Kaskuser—sebutan bagi anggota komunitas Kaskus—tentang pentingnya berusaha dari mimpi. Tanpa perlu bermuluk-muluk, usaha yang dilakukan bisa membuahkan hasil maksimal.

Andrew pun senang bisa menghasilkan uang dari passion dan hobinya. Hari-hari dilalui Andrew bukan semata untuk bekerja, “Tapi lakuin apa yang gue suka.” Kaskus adalah pembuktian kerja keras yang dilakukan dengan penuh cinta pasti berbuah sukses.

Dengan kisah hidup semenarik itu, tak heran bila banyak sineas dan perusahaan produksi yang tertarik memfilmkan kisah hidup Ken dan Andrew. Sekalipun tawaran kerap berdatangan, baik Ken maupun Andrew merasa  belum “klik” kisah hidupnya difilmkan.

Lalu, keduanya berbincang sekaligus  bertukar ide dengan 700 Pictures, dan merasa saling cocok. “Kami kepikiran buat film karena kami sering diundang ke universitas untuk sharing, tapi problem dan pesannya terbatas,” jelas Ken.

“Kami buat ini supaya mudah menyerap pesannya,” jelas Andrew. “Kami lihat Indonesia ini krisis mimpi, yang bikin Indonesia tidak sebesar yang seharusnya itu karena banyak yang takut menjalankan idenya. Sebenernya modal kami awalnya juga cuma mimpi.”