free html hit counter

Hendak Diroket Terduga Teroris dari Indonesia, Ini Reaksi Singapura

BeritaBintang –  Pemerintah Singapura bereaksi soal rencana enam terduga teroris yang ingin menembakkan roket ke Singapura dari wilayah Batam, Indonesia. Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) mengaku sudah mengetahui rencana serangan itu dan telah bekerjasama dengan aparat keamanan Indonesia sejak rencana serangan itu diketahui.
 
”Badan keamanan kami telah berkoordinasi erat dengan Pemerintah Indonesia sejak temuan plot serangan ini, untuk memantau kegiatan kelompok dan untuk menangkap mereka yang terlibat,” kata kementerian itu, dalam sebuah pernyataan, Sabtu (6/8/2016).
 
“Kami berterima kasih atas kerjasama yang baik dari Pemerintah Indonesia dan tindakan mereka untuk menangkap kelompok (terduga teroris),” lanjut Kementerian Dalam Negeri Singapura.
 
Polisi Singapura dan lembaga keamanan lainnya telah meningkatkan langkah-langkah pengamanan perbatasan dalam menanggapi ancaman ini.
 
”Perkembangan ini menyoroti keseriusan ancaman terorisme ke Singapura, dan pentingnya gerakan nasional ‘SGSecure’. Masyarakat disarankan untuk tetap waspada,” imbuh pernyataan Kementerian Dalam Negeri Singapura, seperti dikutip Channel News BintangBola.Co

Sebelumnya diberitakan, bahwa pihak berwenang Indonesia telah menangkap enam terduga teroris, termasuk pemimpin kelompok yang memiliki rencana untuk menembakkan roket dari Batam dengan sasaran Marina Bay (Teluk Marina), Singapura.
 
Enam terduga teroris yang ditangkap berusia antara 19 tahun hingga 46 tahun. Mereka ditangkap di berbagai lokasi di seluruh Batam. Sebuah senjata ditemukan di salah satu lokasi penangkapan.
 
Keenam terduga teroris itu disebut bagian dari kelompok Katibah GR yang dipimpin Gigih Rahmat Dewa, 31.  Lima anak buah Gigih antara lain; Trio Syafrido, 46 (seorang karyawan bank), Eka Saputra, 35 (pekerja pabrik), Tarmidzi, 21; Hadi Gusti Yanda, 20; dan M Tegar Sucianto, 19. Kelompok ini diduga menyembunyikan dua pria Uighur.
 
”Ya, memang ada rencana untuk serangan. Tapi rencana itu tidak terwujud,” kata Kepala Humas Markas Besar Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar.