free html hit counter

Hati-hati! Sering Ngupil Ternyata Tanda Kelainan Jiwa

BeritaBintang – Pria satu ini mungkin cukup terkenal pada era tahun 90-an bagi masyarakat Palembang dan sekitarnya, terutama bagi kalangan penggemar olah raga tinju.

Pada masanya, pria bernama lengkap Mohamad Damin ini dulunya raja ring tinju nasional dan dieluk-eluk penggemarnya.

Namun kini, Damin harus kerja serabutan bahkan rela menjadi kuli panggul angkut semen untuk menghidupi keluarganya.

Damin sendiri mengaku tak malu jadi kuli panggul meskipun dirinya adalah mantan juara tinju nasional tahun 90-an.

“Yang penting kerja halal. Saya memang kerja sebagai kuli panggul yang mengangkut semen dari gudang ke toko-toko bangunan,” ujar Damin,  di rumahnya yang sangat sederhana berada persisi di pinggiran jalur rel kereta api di rumah di pinggiran jalur rel kereta api Jalan Nilakandi RT 04 RW 02 Kelurahan Karya Jaya Kecamatan Kertapati Palembang, Selasa (10/11/2015).

Sebagai mantan petinju profesional yang pernah merasakan puncak kariernya, Damin tahu betul dengan resiko yang dihadapinya.

Karena sebagai petinju profesional itu akan mendapatkan materi dari hasil pertandingan yang dilakoninya.

Jika tidak ada pertandingam, maka tidak ada sesuatu yang dihasilkan.

“Alhamdulillah saya dan keluarga tadi (kemarin) mendapatkan bantuan sembako berupa beras, mie instan dan sarden dari Dinas Sosial Sumsel yang diserahkan langsung oleh Plt Kadinsos Sumsel Belman Karmuda. Ternyata masih ada pihak yang peduli dengan saya,” ujar Damin.

Memiliki lima orang anak tiga laki-laki dan dua perempuan, Damin bertekad akan memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anaknya.

Minimal anak-anaknya harus tamat tingkat sekolah menengah atas, agar mendapatkan kerja yang juga layak.

Anak laki-laki sulung Damin kini sudah lulus SMA dan kini bekerja jadi buruh pabrik di Batam. Sedangkan anak keduanya yang juga laki-laki baru saja lulus SMA dan kini masih kerja serabutan.

“Anak kedua saya baru saja lulus tahun ini, kalau mau kuliah tentunya tidak ada uang. Anak saya yang lainnya masih sekolah SD dan SMP, serta putri saya yang bungsu baru berusia tiga tahun. Pokoknya saya harus banting tulang agar anak-anak saya tetap bisa sekolah minimal tamat SMA. Karena saya ini putus sekolah dan hanya sampai kelas 6 SD,” ujarnya.

Mengenai apakah anak-anaknya terutama yang laki-laki ada mengikuti jejaknya menjadi atlet tinju, Damin mengakui anak nomor duanya berkeinginan menjadi atlet tinju.

Meskipun sempat satu tahun gabung pada salah satu sasana tinju di Palembang, namun anak keduanya ini yang bernama Prima Handoko (19) memilih stop berlatih karena ingin membantu mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Prima anak saya mungkin mengerti dengan kondisi keluarga, jadi stop berlatih. Tapi kalau di rumah saya tetap melatihnya dengan bekal pengalaman saya sebagai petinju profesional,” ujarnya.

“Saya siap menjadi pelatih. Tapi saya tegaskan, saya bukan untuk mencari materi. Saya ingin berbagi pengalaman, karena saya nilai saat ini banyak kekeruangan dan mungkin saya bisa menutupinya. Intinya saya ingin memberikan prestasi kepada Sumsel.” ujarnya.

“Tahun 2005 lalu saya pernah menjadi pelatih tinju untuk Kecamataan Gandus pada waktu Porda, hanya waktu dua bulan anak didik saya berhasil meraih dua perak dan satu perunggu.”

Damin menambahkan, saat itu kecamatan berjanji akan memberikan honor Rp 2,5 juta, tapi hingga saat ini belum dibayar.