free html hit counter

Gelombang Tinggi di Pesisir Jawa, 1.000 Orang Lebih Mengungsi

BeritaBintang –Gelombang tinggi dan pasang laut menghantam 24 wilayah di pesisir Pulau Jawa. Ada lebih dari 1.000 orang mengungsi karena rumahnya terendam atau rusak karena gelombang tinggi tersebut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan di Lumajang ada ratusan anak dan perempuan yang mengungsi.

“Bahkan di Lumajang terdapat 300 jiwa anak-anak dan perempuan yang mengungsi,” ungkap Sutopo di Jakarta, Kamis (9/6/2016).

Begitu pula dengan di Kabupaten Pekalongan, sebanyak 891 warga mengungsi di 11 titik pengungsian. Sebab, “Sekitar 5.937 unit rumah terendam banjir rob di Kecamatan Tirto, Wiradesa, Wonokerto dan Siwalan,” kata Sutopo dalam pesan singkatnya.

Peristiwa ini juga menyebabkan ratusan bangunan rusak di sejumlah wilayah. Daerah yang rusak antara lain berada di Yogyakarta. Sekitar 15 kawasan wisata pantai di Yogyakarta, rusak.

Tak Ada Korban

Namun, gelombang tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. “Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Diperkirakan kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah,” ujar Sutopo.

Penyebab fenomena gelombang tinggi adalah pengaruh astronomi. Saat ini bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus. Hal tersebut mengakibatkan naiknya tinggi muka laut.

Peristiwa kali ini bersamaan dengan terjadinya anomali positif tinggi muka air laut sebesar 15-20 cm.

Gelombang tinggi juga diperkuat oleh adanya penjalaran alun (swell) yang dibangkitkan dari pusat tekanan tinggi subtropis di barat daya Australia.

Gelombang tinggi dan banjir rob masih berpotensi terjadi. BMKG memprediksi fenomena ini terjadi hingga hingga Jumat 10 Juni 2016. Gelombang tinggi diperkirakan dapat mencapai 2,5-4 meter di Laut Andaman, perairan utara dan barat Aceh, perairan barat Kepulauan Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu, Samudera Hindia barat Aceh hingga Bengkulu, Selat Bali bagian selatan, perairan selatan Sumbawa hingga Pulau Sumba.

Sedangkan gelombang setinggi 4-6 meter berpotensi terjadi di Perairan Enggano, perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Jawa hingga Lombok, Samudera Hindia selatan Bengkulu hingga NTT.