free html hit counter

Fakta dan Rumor Kasus Kim Jong Nam dalam Sepekan

BeritaBintangFakta dan Rumor Kasus Kim Jong Nam dalam Sepekan

Sepekan setelah mencuatnya berita soal pembunuhan Kim Jong-nam, kakak tiri Kim Jong-un, sejumlah fakta mulai diketahui. Gambaran di balik kasus ini pun kian terang.

Namun, sejumlah rumor masih menyelimuti peristiwa serangan bergaya perang dingin ini. Sementara Kepolisian Malaysia masih terus tertutup soal penyidikan yang berjalan.

Berikut ini adalah fakta yang sudah diketahui dan beberapa hal yang masih samar mengenai kematian sang kakak tiri pemimpin Korea Utara.

Apa yang terjadi?

Senin pekan lalu, Kim Jong-nam berada di terminal bandara Kuala Lumpur menunggu pesawat ke Macau.

Dia dihampiri oleh dua orang, salah satunya memegangi dia dari belakang dan menyemprot mukanya dengan cairan diduga beracun. Demikian disampaikan polisi dan ditunjukkan rekaman CCTV yang bocor.

Jong-nam kemudian melapor pada petugas bandara, menyontohkan apa yang dilakukan dua perempuan itu terhadapnya.

Lalu, dia diantar ke klinik bandara, di mana dia akhirnya terduduk lemas di sebuah kursi.

Jong-nam kehilangan kesadaran dan dilarikan ke rumah sakit, tapi meninggal dalam perjalanan.

Tersangka pertama

Satu hari setelah serangan, polisi mengumumkan telah menangkap seorang perempuan berusia 28 tahun, Doan Thi Huong. Sehari kemudian, polisi menangkap seorang perempuan asal Indonesia, Siti Aisyah beserta kekasihnya, warga Malaysia.

Menurut polisi, Huong–yang tampak dalam rekaman CCTV mengenakan kaos bertulisan ‘LOL’–bekerja di sebuah tempat hiburan, sementara Siti bekerja di sebuah spa.

Siti mengaku ditipu seolah-olah dirinya berpartisipasi dalam acara jahil di televisi, kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian, mengutip informasi yang dia dapat dari Malaysia.

Baca Juga: ” Diskotek Alexis dan Gandaria disegel karena ini

Jejak Korea Utara

Setelahnya, polisi menangkap pria berusia 46 tahun asal Korea Utara, Ri Jong-chol, yang disebut kerja di Kuala Lumpur di bidang IT.

Kepolisian masih mencari empat orang warga Korut lainnya, yang memasuki Malaysia dalam waktu berbeda-beda beberapa malam sebelum pembunuhan dan pergi di hari yang sama ketika peristiwa terjadi.

Sejumlah sumber mengatakan mereka kembali ke Pyongyang lewat rute yang berputar-putar, melalui Indonesia, Dubai dan Vladivostok.

Korea Selatan menyebut perkembangan ini sebagai bukti keterlibatan Korea Utara di balik kasus pembunuhan tersebut. Namun, Pyongyang menampik dan menyebut Malaysia berkolusi dengan Seoul.

Motif

Jika Pyongyang betul-betul mengotaki pembunuhan ini, sejumlah hal bisa menjadi alasan mereka melakukannya.

Salah satu teori menyebut Jong-nam sudah diincar karena mengkritisi kekuasaan turun-menurun Korut pada 2011 lalu. Kepada seorang jurnalis, dia menyebut Pyongyang mesti direformasi seperti China.

Yang lain menyebut Jong-un paranoid soal kemungkinan Jong-nam mengganggu kekuasaannya dengan menawarkan alternatif lain di kalangan keluarga Kim.

Sementara pengamat lain mengatakan pembunuhan ini diperintahkan karena ada laporan Jong-nam sedang bersiap untuk membelot.

Salah satu kemungkinan lain di luar dugaan keterlibatan Korut adalah pembunuhan ini terkait dengan bisnis terlarang Jong-nam di kawasan.

Apa selanjutnya?

Otoritas Malaysia berkeras seorang anggota keluarga mesti datang untuk memberikan sampel DNA sebelum jenazah Jong-nam bisa dipulangkan.

Jika tidak ada anggota keluarga yang datang, polisi menyatakan akan memikirkan kemungkinan lain soal jenazah tersebut.

Sementara, keberadaan polisi bersenjata lengkap dan kedatangan konvoi ke rumah sakit pagi ini memunculkan rumor soal kehadiran anak sulung Jong-nam, Kim Han-sol, untuk mengambil jenazah sang Ayah.

Laporan toksikologi dirilis dalam waktu sepekan-dua pekan setelah post-mortem, kata kementerian kesehatan. Laporan ini akan menunjukkan jenis racun yang digunakan dalam pembunuhan tersebut.

Namun, apa pun hasil penyidikan, peristiwa ini sudah terlanjur merusak hubungan antara Korea Utara dan Malaysia. Hal ini juga mungkin bisa membuat Korea Utara semakin terisolasi di kancah global.