free html hit counter

Dirjen Hubla Tinggal di Rumah Sederhana, Uang Rp 20,7 M Buat Apa?

BeritaBintangDirjen Hubla Tinggal di Rumah Sederhana, Uang Rp 20,7 M Buat Apa?

Dirjen Perhubungan Laut (Hubla) Kementerian Perhubungan, Antonius Tonny Budiono ditangkap penyidik KPK karena kedapatan menerima suap sebesar Rp 20,7 miliar. Padahal, Tonny sendiri tinggal di rumah miliknya yang sederhana.

Dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Tonny memiliki rumah di Jalan Pisok XX Blok EB 16 Nomor 7, Sektor 5 Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Kondisi rumah sederhana tersebut terbilang sepi, namun seorang satpam yang bertugas membenarkan Tonny dan keluarga tinggal di rumah tersebut.

“Itu rumahnya (rumah Tonny),” ujar seorang satpam, Jaya, kepada Judi Online.

Namun, Tonny menyimpan uang suap yang diterimanya di Mes Perwira Bahtera Suaka, Blok B 1 No 2, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. KPK menyita uang dengan nilai total Rp 20,74 miliar dari mes tersebut. Uang itu terdiri dari 7 mata uang dan ditempatkan dalam 33 tas.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah merinci 7 mata uang yang telah disita tersebut, terdiri dari 479.700 dolar Amerika serikat (USD), 660.249 dolar Singapura (SGD), 15.540 Poundsterling (GBP), 50.000 Vietnam Dong (VND), 4.200 Euro, 11.212 Ringgit Malaysia (RM), dan 5.700.000.000 rupiah (IDR).

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menyebut total uang yang disita dari mes itu adalah Rp 18,9 miliar. Selain itu, menurut Basaria, ada uang Rp 1,174 miliar di dalam kartu ATM yang disiapkan untuk membayar ‘setoran’ ke Tonny.

[Baca Juga -“Ngeri! Kelompok Saracen Patok Tarif dari Rp10 Juta hingga Rp45 Juta“]

“Total yang ditemukan Rp 20,74 miliar,” ujar Basaria Panjaitan dalam jumpa pers di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (24/8).

Nilai suap yang diterima Tonny terbilang fantastis, mencapai Rp 20,7 miliar. Jumlah itu merupakan barang bukti terbanyak yang diamankan KPK dari OTT.

Tonny menerima uang dari Adiputra Kurniawan, Komisaris PT AGK (Adhi Guna Keruktama) yang mengerjakan pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Tonny Budiono ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (23/8) lalu. Dia diduga menerima suap dari Komisaris PT Adhi Guna Keruktama (AGK) Adiputra Kurniawan terkait proyek pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang.

Tonny pun ditetapkan sebagai tersangka dan disangka melanggar Pasal 12 ayat 1 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan Adiputra disangka sebagai tersangka pemberi dan disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.