free html hit counter

Dilarang Masuk Kuil, Aktivis Perempuan India Lakukan Demonstrasi

BeritaBintang –Sekelompok aktivis perempuan dilarang memasuki sebuah kuil di India Barat meskipun pihak pengadilan telah melarang masyarakat melakukan diskriminasi gender di tempat-tempat ibadah umat Hindu.

Pengadilan tinggi di Mumbai pada Jumat, 1 Maret 2016 menyatakan bahwa perempuan memiliki hak untuk masuk dan berdoa di dalam kuil di negara bagian Maharashtra, India. Pihak pengadilan bahkan telah menginstruksikan kepada pemerintah agar perempuan tidak lagi dicegah memasuki kuil.

Sabtu, 2 April 2016, 25 aktivis dari kelompok Bhumata Ranragini (Warriors Women of Mother Earth) berusaha memasuki Kuil Shani Shingnapur, yang biasanya hanya terbuka untuk laki-laki. Meski demikian, aksi sekelompok aktivis itu dihentikan oleh penduduk desa yang tidak mengizinkan perempuan memasuki tempat suci.

“Keputusan itu seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah. Kami akan mengajukan keluhan kepada kepolisian terhadap kepala menteri dan menteri dalam negeri,” ujar Kepala Bhumata Ranragini Brigade Trupti Desai.

Terkait kejadian ini, aparat kepolisian kemudian membawa para aktivis ke lokasi yang aman dari penduduk desa yang marah dan mengancam akan menyerang siapa saja yang memasuki kuil tersebut, sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Minggu (3/4/2016).

Candi Shingnapur, yang terletak 300 kilometer timur dari Mumbai, didedikasikan kepada dewa yang berjenis kelamin laki-laki bernama Shani yang melambangkan planet Saturnus dalam mitologi Hindu.

Sebelumnya, para aktivis Bhumata melakukan penyerbuan ke sebuah kuil lainnya pada awal Januari tapi aksi tersebut sempat dihentikan oleh petugas polisi.

Setelah diberlakukan peraturan itu, pihak pengadilan mendapat petisi dari pihak yang menentang larangan diberlakunya peraturan tersebut di kuil Maharashtra. Petisi ini digagas oleh pengasuh setempat yang mengatakan bahwa pemberian izin kepada perempuan untuk memasuki kuil adalah kegiatan yang dianggap terlarang. Tradisi perempuan tidak boleh memasuki kuil sudah berlangsung selama berabad-abad.

“Tradisi kuno kami tidak bisa dilanggar. Desa kami telah memutuskan bahwa perempuan tidak dapat diizinkan masuk ke tempat suci,” ujar seorang warga desa.

Meski demikian, pihak pengadilan telah membuat keputusan berdasarkan hukum negara tahun 1956. Keputusan itu menghukum siapa saja yang mencegah perempuan memasuki kuil dan bilah terbukti mencegah dapat dipenjara selama enam bulan.