free html hit counter

Benteng Terbesar di Dunia Ternyata Ada di Buton

BeritaBintangPULAU Buton termasuk wilayah Sulawesi Tenggara meninggalkan sejarah keraton yang dapat dikunjungi di Kompleks Benteng Keraton Wolio.

Kompleks Benteng Keraton yang berada di Kota Bau Bau ini menarik karena telah dicap sebagai benteng terbesar di dunia.

Luas benteng yang melingkupi satu wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Melai, adalah 22,28 hektar are dengan keliling 2740 m.

Dengan panjang tiga kilometer, tinggi empat meter, dan lebar dua meter, benteng ini mengelilingi perkampungan adat asli Buton dengan rumah-rumah dan bangunan tua yang dipelihara.

“Karena luasnya, kompleks benteng ini dibuktikan sebagai benteng terbesar oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record pada 2006,” kata La Ode Muhammad Adam Vatiq, pemuda asli berdarah kesultanan yang menjadi pemandu di situs tersebut, di Bau Bau, Sultra.

Menurut cerita, batu-batu gunung yang membentuk benteng-bentengnya menggunakan perekat berupa adonan kapur dicampur cairan putih telur.

Meski terdengar tidak umum, bangunan benteng yang sedikit telah direnovasi pemerintah umumnya masih utuh.

Memiliki 12 pintu gerbang yang disebut lawa dan 16 meriam, bangunan seperti gazebo di atas pintu masuk benteng, serta batu-batu yang disusun seperti layaknya benteng yang disebut Baluara atau Bastion dalam Bahasa Portugis. Benteng-benteng di sana terletak di puncak-puncak bukit, yang dikelilingi pemandangan laut yang indah.

“Benteng biasanya dibuat untuk perang. Tapi di sini, benteng dibuat karena ada rasa yang sama dari masyarakat yang resah pada bajak-bajak laut yang suka datang atau melewati sini. Dari situ, masyarakar punya kesepakatan untuk cari tempat yang lebih tinggi,” jelas La Ode.

Di dalam keraton sendiri ada dua fungsi penggunaan selain untuk pertahanan, menurut La Ode. Fungsi tersebut adalah penguburan dan tempat tinggal orang yang berjasa besar bagi kesultanan.

Di lingkungan keraton pun masih tinggal dua golongan bangsawan, yaitu Kaumu atau calon raja atau sultan dan kaum Walaka, semacam legislatif yang berasal dari kaum bangsawan juga.

Di dalam komplek Keraton, wisatawan masih dapat melihat rumah-rumah kediaman keturunan bangsawan, makam-makam Sultan Buton, batu-batu pelantikan, Masjid Agung Kesultanan, dan bangunan unik dan bersejarah lainnya.

“Setiap bentuk atap rumah pun unik. Kalau rumah Kaumu bertingkat tiga, kalau Walaka hanya dua,” jelas pemuda yang baru tamat SMA tersebut.

Sekarang ini, masyarakat, pihak keraton, dan dinas pariwisata kota Bau Bau, juga menambahkan Pusat Kebudayaan Wolio, perpustakaan, dan pusat informasi yang juga menyediakan oleh-oleh atau suvenir khas Buton.

Dengan membayar secara sukarela, wisatawan dapat berkunjung ke Komplek Benteng Keraton Wolio Buton ini dari pagi sampai sore.