free html hit counter

Bandara Maratua, Gerbang Pariwisata Pulau Terluar Indonesia, Siap Digunakan

BeritaBintangBandara Maratua, Gerbang Pariwisata Pulau Terluar Indonesia, Siap Digunakan

Terbentang sepanjang 1.600 meter, landasan pacu Bandara Maratua sejajar dengan garis pantai nan biru di salah satu pulau terluar itu.

Pulau Maratua masuk ke dalam salah satu pulau terluar di antara 92 pulau terluar yang dimiliki Indonesia, selain Pulau Miangas, Pulau Anambas, dan lainnya.

Keberadaan Bandara Maratua bukan hal baru. Bandara yang terletak di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, itu sudah siap diresmikan sejak 2015. Namun, peresmian yang akan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo kembali mundur dan direncanakan pada akhir Februari 2018 ini.

Padahal keberadaanya sangat ditunggu-tunggu, bukan hanya sebagai tempat lepas landas dan mendarat pesawat, tetapi juga salah satu roda penggerak perekonomian daerah.

Dengan peningkatan pergerakan orang dari dan ke Maratua, memberikan stimulus kepada warga setempat untuk mengembangkan sektor pariwisata seiring bertambahnya wisatawan yang datang, kuliner, kerajinan tangan dan sebagainya.

Kepala Satuan Pelaksana Bandara Maratua Budi Sarwanto mengatakan rencananya Presiden Joko Widodo akan meresmikan Bandara Maratua pada Februari 2018. “Sebetulnya Bandara Maratua sudah siap diresmikan sejak 2015, secara teknis sudah siap dioperasikan,” katanya.

Bandara Maratua dibangun sejak 2008 yang dimulai dengan penetapan lokasi, kemudian pada 2009 disusun rencana induk (master plan), pada 2010 studi analisis dampak lingkungan (amdal) 2011 pembebasan lahan, selanjutnya pada 2012 pelapisan inti lahan untuk landasan pacu dan 2013 dimulai berlanjut pelapisan inti landasan pacu.

[ Baca Juga – ” Dongkrak Pariwisata, Citilink Kaji Rute Internasional ke Banyuwangi ” ]

Pada 2015, pembangunan sisi udara berlanjut dibangun oleh Kementerian Perhubungan, yaitu pembangunan apron 70 meter x 100 meter serta jalur penghubung dari apron ke landasan pacu (taxiway) 75 meter x 15 meter senilai Rp38 miliar.

“Untuk pembangunan landasan pacu di sini memang biayanya mahal karena memang kondisi lahannya itu bukan tanah, tetapi batu karang jadi butuh penimbunan yang banyak,” katanya yang dilansir oleh Poker Online.

Saat ini, kondisi total landasan pacu yang sudah diaspal, yaitu 1.720 meter setelah dilakukan perpanjangan 200 meter oleh Pemerintah Kabupaten Berau dan 100 meter oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Sumber pembiayaan merupakan gabungan dari tiga sumber pembiayaan, yaitu APBN dari Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, kemudian APBD Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan APBD Pemerintah Kabupaten Berau.

Pembangunan berlanjut pada 2014 dilakukan pembangunan landasan pacu yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui APBD.

Rincian pembiayaannya, yaitu APBN Tahun Anggaran 2014-2016 Rp101,64 miliar, APBD Provinsi Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2011-2016 Rp65,34 miliar, APBD Kabupaten Berau Tahun Anggaran 2014-2016 Rp27 miliar.

Budi menyebutkan terdapat sumber pembiayaan dari APBD hanya sampai 2016, sementara itu untuk pembangunan 2017 seluruhnya murni dari APBN. Pembangunan bandara pada 2017, meliputi penyempurnaan landasan pacu sisi kanan dan kiri, sehingga total biaya dari APBN dari 2008 hingga 2017, yaitu Rp112,72 miliar.

(Baca Juga: Ingin Turunkan Berat Badan? Ini Waktu Tepat Konsumsi Nasi agar Tidak Mudah Gemuk)

Dari segi fasilitas, bandara yang menjadi titik penghubung antarpulau tersebut memiliki kapasitas sisi darat atau terminal seluas 750 meter persegi yang bisa menampung 36.000 penumpang per tahun.

Kemudian terdapat gardu listrik, lahan parkir 1.224 meter persegi, jalan akses 354 meter persegi, menara pengatur lalu lintas udara (ATC), Pelayanan Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) dan lainnya.