free html hit counter

Balita Cenderung Cuek saat Diajak Interaksi, Apakah Ini Gejala Autisme?

BeritaBintangBalita Cenderung Cuek saat Diajak Interaksi, Apakah Ini Gejala Autisme?

Anak dengan autisme memang membutuhkan perhatian khusus. Terkadang orangtua perlu jeli memerhatikan gejala yang timbul untuk mengetahui apakah anak mengalami autisme atau tidak.

Menurut dr Gitayanti Hadisukanto, SpKJ(K), psikiater anak dan remaja, autisme spectrum disorder merupakan gangguan perkembangan ya ng pervasif, sifatnya berat karena meliputi semua perkembangan.

“Jadi ada tiga gangguan utama, pertama gangguan berkomunikasi atau terlambat bicara, interaksi sosial, dan perilaku mengulang. Hanya sedikit yang gangguan bicaranya tidak terlambat,” terang Gita di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis 23 Maret 2017.

Anak autisme biasanya tidak menggunakan komunikasi dua arah. Ia cenderung asyik berbicara sendiri. Tapi sejak kapan orangtua dapat mengidentifikasi anak mengalami autisme?

[ Baca Juga – Terlahir dengan Kondisi Langka, Bayi Dijuluki ‘Alien’ oleh Ibunya dan Sempat Menolak Menyusuinya ]

Biasanya, gejala autisme dapat diketahui dengan sebelum anak berusia 3 tahun. Mungkin saja anak mengalami perkembangan yang saat dari bayi, termasuk komunikasinya. Begitu di usia 2-3 tahun, bisa saja perkembangannya berhenti atau mundur.

Misalnya saja gejala yang timbul, anak cenderung lebih cuek dan tidak membangun relasi sosial. Orangtua seharusnya perlu curiga dan tetap menerapkan kelekatan afeksi terhadap anak.

“Orangtua sering kali membiarkan anak, kalau anak cuek. Justru karena cuek, anak harus diberikan banyak stimulasi,” jelas dr Gita.

Anak pada umumnya, mereka akan mendekat kepada ibunya secara emosional. Namun, anak dengan autisme cenderung mendekat kepada ibunya untuk memenuhi kebutuhan konkret, misalnya ketika ia lapar atau haus. Kelekatan yang terjadi tidak berlandaskan emosional.

Kendati demikian, orangtua seharusnya menanamkan afeksi dan stimulasi emosional terhadap anak sejak ia di dalam kandungan. Setidaknya, metode ini mampu meminimalkan risiko anak mengalami keterlambatan bicara yang disebabkan oleh autisme spectrum disorder.