free html hit counter

Bagaimana cara manusia purba untuk ‘selfie?’

BeritaBintang – Lukisan berusia 12.000 tahun ditemukan di dinding-dinding tebing dan gua di bagian timur Timor Leste. Wujud seni purbakala itu merupakan salah satu yang tertua di kawasan tersebut. Wartawan Judi Bola Online Rebecca Henschke melaporkannya dari Tutuala, Timor Leste.

Kami menyeberangi sebuah sungai di tengah hutan semi-tropis lalu mendaki tebing batu di Taman Nasional Tutuala. Tiada orang lain di sini, hanya suara-suara burung dan deru laut di kejauhan. Pemandu kami adalah Kepala Desa Tutuala, Antonia Fonseca. Pada suatu ketika dia mendadak berhenti dan menunjuk sebuah lukisan tepat di atas kepala kami. Lukisan itu berwujud sebuah perahu, dalam warna merah.
Berita Bintang
“Di semua batu di sini ada lukisan perahu. Kebanyakan orang di sini datang dari pulau-pulau lain. Mereka datang dengan perahu. Ketika mereka datang ke sini, mereka tidak punya kamera sehingga mereka melukiskan pengalaman mereka (di batu ini). Mereka meninggalkan lukisan-lukisan ini untuk anak cucu sehingga keturunan mereka tahu sejarah nenek moyang dan dari mana nenek moyangnya berasal,” kata Antonia.

Professor Sue O’Connor dari Australian National University telah meneliti seni lukisan bebatuan di kawasan ini dan di berbagai daerah di Indonesia lebih dari satu dekade. Dia mengaku menemukan 40 lokasi lukisan pada bebatuan di kawasan Tutuala.

“Beberapa panel sangat spektakuler… dan lukisannya cukup ekstensif. Ada ratusan motif di tebing-tebing yang menghadap laut dan di dalam gua-gua,” kata O’Connor dengan bersemangat.

Dia meyakini lukisan-lukisan tersebut dibuat orang-orang berbahasa Austronesia yang diduga kuat berasal dari Pulau Taiwan Linkalternatif.info.

“Mereka datang ke daerah ini membawa tembikar dan mungkin hewan peliharaan sekitar 3.500 hingga 4.000 tahun lalu. Mereka bergerak melintasi Kepulauan Indonesia. Dengan demikian ada sekelompok kecil manusia yang melukis gambar-gambar perahu di satu tempat. Dalam catatan saya ada pula lukisan buaya yang tengah bertarung, kaki mereka menggantung di udara dan ciri khas mereka muncul,” kata O’Connor.
Berita Bintang

Orang-orang berbahasa Austronesia, lanjutnya bergerak melintasi kepulauan Indonesia hingga Pasifik. Pergerakan mereka saat itu diperkirakan salah satu migrasi terbesar dalam sejarah manusia.

Kami melanjutkan perjalanan melewati hutan dan memasuki gua yang besar dan luas. Dari kejauhan kami bisa mendengar suara kelelawar. Saat kami makin masuk ke dalam gua kami menjumpai kolam air sejernih kristal.

“Gua ini berfungsi sebagai tempat perlindungan setiap kali terjadi perang. Perang Dunia kedua, perang melawan penjajahan jepang, perang melawan Indonesia. Ada kolam di dalam gua, airnya tersaring bebatuan sehingga airnya lebih jernih daripada air mineral botolan yang kita beli untuk minum,” ujar Antonia.
Berita Bintang

Professor O’Connor mengatakan manusia telah menggunakan gua ini sejak 42.000 tahun lalu. Hal ini dibuktikan melalui usia alat-alat terbuat dari batu yang ditemukan di dalam gua. Salah satunya mata kail tertua di dunia.

“Kami juga menemukan fosil ikan pelagia, yang wujudnya seperti tuna, bergerak cepat dan sulit ditangkap. Jadi, kami tidak hanya kamenemukan mata kail tertua di dunia, kami juga menemukan ikan pelagia tertua di dunia. Jadi ini area yang luar biasa ditinjau dari berbagai sudut pandang,” papar O’Connor

Antonia menyalakan obor sehingga sinarnya menerangi salah satu dinding batu di dalam gua. Mata saya langsung tertuju pada lukisan pada dinding batu tersebut. Tampak jelas lukisan wajah manusia dengan penghias kepala berbentuk bundar seperti matahari.

Menurut Profesor O’Connor dan timnya, lukisan itu berusia 13.000 tahun.

“Bisa saja wajah itu adalah pemimpin klan, atau seorang leluhur yang dipuja. Kami tidak tahu.”
Berita Bintang

Antonia mengatakan, melalui lukisan-lukisan itu para leluhurnya meninggalkan pesan kepada anak cucu mereka.

“Lukisan-lukisan ini menunjukkan ke kami bahwa leluhur kami adalah seniman berbakat dan luar biasa kreatif. Pesan yang terkandung dari lukisan-lukisan ini adalah generasi kami sekarang harus lebih pandai dari mereka. Mereka meninggalkan ini untuk anak cucu mereka, kami juga harus meninggalkan sesuatu yang baik untuk anak cucu kami.”