free html hit counter

Australia dan Papua Nugini Ributkan Perempuan Afrika yang Minta Aborsi

BeritaBintang –Seorang perempuan hamil yang mengaku diperkosa di pusat penahanan pencari suaka Australia di Nauru, pulau kecil di samudra Pasifik Selatan, tidak boleh dipaksa melakukan aborsi di Papua Nugini karena tidak aman dan ilegal, demikian putusan pengadilan pada Minggu (8/5/2016).

Berdasarkan kebijakan ketat imigrasi Australia, pencari suaka yang dicegat di tengah lautan saat berupaya mencapai Negeri Kanguru akan dikirim dan diproses di sejumlah penampungan di Nauru dan Pulau Manus, Papua Nugini (PNG), dan mereka tidak akan ditempatkan di Australia.

Kekerasan dan laporan pelecehan terhadap anak-anak secara sistematis di penampungan, yang menjadi rumah bagi para pencari suaka para pelarian dari kekerasan di Suriah, Irak, Asia Selatan, dan Afrika, menimbulkan sorotan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi para pengungsi (UNHCR) dan kelompok Hak Asasi Manusia.

Perempuan asal Afrika yang dalam dokumen pengadilan hanya teridentifikasi sebagai S99 mengaku diperkosa saat dia berada di Nauru dan meminta aborsi di Australia.

Akan tetapi, Menteri Imigrasi Australia Peter Duttton memerintahkan dia dikirim ke PNG untuk menjalani prosedur tersebut dan Pengadilan Federal Australia menyidangkan persoalan itu.

Hakim Mordecai Bromberg, Jumat 6 Mei lalu, memutuskan bahwa prosedur di PNG ilegal karena negara tersebut kekurangan ahli medis dan beberapa fasilitas untuk merawat berbagai kerahasiaan fisiologis dan kondisi psikologis.

“Aborsi di Papua Nugini terbuka bagi pemohon yang memiliki risiko keselamatan dan keabsahan bahwa sebagai orang normal, sikap menteri itu harus dihindari,” kata Bromberg membacakan putusannya pada halaman 150, salinan tebal yang belum dipublikasikan.

Bromberg juga memutuskan bahwa perempuan yang menjadi korban pemerkosaan tersebut masih boleh tinggal di PNG hingga 15 Mei 2016.

Juru bicara Dutton menyatakan bahwa putusan Pengadilan Federal Australia tersebut masih dipertimbangkan dan diperkirakan akan diajukan banding.

George Newhouse, pengacara perempuan korban pemerkosaan, mengatakan bahwa Undang-Undang Papua Nugini melarang aborsi, meskipun ada pengecualian bahwa prosedur aborsi diperlukan jika untuk menyelamatkan nyawa ibu si jabang bayi.