free html hit counter

ASEAN Akan Gelar Rapat di Myanmar untuk Bahas Isu Rohingya

BeritaBintang – Negara anggota ASEAN dijadwalkan akan menggelar pertemuan di Yangon, Myanmar, pada 19 Desember mendatang untuk membahas situasi di negara bagian Rakhine, di mana kekerasan terhadap kaum minoritas Muslim Rohingya terus terjadi.

Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Jose Antonio Morato Tavares, mengatakan bahwa gagasan pertemuan antara menteri luar negeri negara anggota ASEAN ini merupakan hasil dari pertemuan Menlu RI, Retno LP Marsudi, dengan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, pada 6 Desember lalu.

“Kami sudah dapat undangan dari Myanmar. ASEAN Foreign Minister Retreat ini rencananya hanya akan membahas agenda tunggal yakni isu di negara bagian Rakhine,” ujar Jose saat dihubungi Agen Bola pada Kamis (15/12).

Menurut Jose, pertemuan menlu ASEAN nanti bisa menentukan sejumlah langkah maupun masukan bagi ASEAN dan Myanmar dalam menangani isu kekerasan di Rakhine. Seluruh menlu negara ASEAN diharapkan hadir dalam pertemuan tersebut.

“Semuanya tergantung hasil pembahasan dalam pertemuan itu. Tidak ada aturan wajib hadir, namun idealnya seluruh menlu datang dalam pertemuan itu,” kata Jose.

Isu mengenai kekerasan terhadap Rohingya di Myanmar kembali mencuat setelah insiden penyerangan pos pengamanan di tiga wilayah perbatasan Myanmar oleh sejumlah kelompok bersenjata pada 9 Oktober lalu. Pemerintah Myanmar menuding “teroris Rohingya” berada di balik serangan itu, meskipun belum ada bukti konkret.

Sejak penyerangan itu, militer Myanmar meningkatkan pengawasan ketat dengan melakukan “operasi pembersihan” di wilayah Rakhine. Alih-alih memburu para pelaku penyerangan, militer Myanmar diduga malah menyerang etnis Rohingya secara membabi buta.

Gelombang kekerasan terhadap etnis Rohingya menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan Suu Kyi, peraih penghargaan Nobel Perdamaian yang posisinya kini berada di atas Presiden Htin Kyaw.

Pekan lalu, penasihat khusus PBB di Myanmar menilai pemerintah Naypyidaw memicu “kekecewaan internasional” Judi Poker atas penanganan krisis yang telah menyebabkan sekitar 30 ribu etnis Rohingya melarikan diri dari kekerasan di Rakhine.

Malaysia menjadi salah satu negara di ASEAN yang paling vokal menyampaikan protes kerasnya kepada pemerintah Myanmar terkait dugaan “pembersihan etnis” terhadap kaum Rohingya tersebut.

Sementara itu, sejumlah tekanan juga datang dari masyarakat Indonesia yang mendesak pemerintah mengambil langkah konkret menghentikan pelanggaran HAM sistematis yang dilakukan pemerintah Myanmar.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri RI menyatakan keprihatinannya dan memastikan akan terus memantau perkembangan situasi terkini di Rakhine.

Indonesia juga merupakan satu-satunya negara ASEAN yang saat ini diberikan akses langsung oleh pemerintah Myanmar ke wilayah Rakhine.

RI menyatakan siap membantu Myanmar mengatasi konflik kemanusiaan yang menerpa negara itu melalui kerja sama pembangunan inklusif seperti mengerahkan bantuan pendidikan dan kesehatan.

“Indonesia terus membantu Myanmar dengan menyalurkan humanitarian asistance dan meminta agar pemerintah Myanmar melakukan penanganan secara inklusif masalah di Rakhine,” kata Jose.