free html hit counter

Angka Kematian Bayi karena Kelainan Bawaan Meningkat di Indonesia

BeritaBintangAngka Kematian Bayi karena Kelainan Bawaan Meningkat di Indonesia

mengalami perubahan pola penyakit dengan meningkatkan kematian akibat penyakit tidak menular, Indonesia juga mengalami pergeseran penyebab kematian bayi. Sudah terjadi penurunan jumlah kematian bayi karena infeksi, asfiksia dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).

Tetapi, terjadi peningkatan angka kematian bayi akibat kelainan bawaan atau kongenital. Menurut Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI, dr. Eni Gustina, MPH, kelainan bawaan menyumbang 7 persen angka kematian pada bayi.

“Kematian balita di Asia Tenggara, sebagian disumbang oleh kekurangan gizi dan kelainan bawaan. Untuk angka Indonesia sampai dengan saat ini lebih kurang sekitar 7 persen dari kematian pada bayi,” ujarnya saat konferensi pers di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Dan pada daerah-daerah tertentu, terlihat bahwa dampak lingkungan dan nutrisi itu sangat besar terhadap kelainan bawaan,” tambahnya.

[ Baca Juga – Gadis Berusia 11 Tahun Ini Akan Jadi Ibu Termuda ]

Lebih lanjut, dr Eni menjelaskan, terjadi peningkatan kelainan bawaan di beberapa daerah di Indonesia berdasarkan penelitian Litbangkes. Misalnya di Brebes dan Bondowoso ternyata ada peningkatan kematian karena kelainan bawaan. Bahkan, pada tahun 2013 itu, di Bondowoso dan Brebes sampai 12 persen kematian bayi karena kelainan bawaan, sehingga diputuskan harus ada penelitian khusus terkait hal tersebut.

“Salah satunya yang diduga menjadi penyebab dari kelainan bawaan tersebut adalah kemungkinan pestisida. Karena kita tahu, pestisida normal itu 18 mikrogram / 100 liter udara, sedangkan di Brebes itu mencapai 38 mikrogram / 100 liter udara, hasil temuan Litbangkes. Sehingga, di beberapa daerah, baik itu di Brebes maupun di Bondowoso, itu tanahnya harus diistirahatkan selama 5 tahun, karena sudah tercemar sedemikian tinggi dengan pestisida,” jelasnya.

Sementara itu, hasil pelaporan data kelainan bawaan dari 19 RS mulai September 2014 sampai dengan Desember 2016 menunjukkan, dari 494 kasus yang memenuhi kriteria, kelainan bawaan terbanyak adalah Talipes 102 kasus, celah bibir atau langit-langit dan Neural Tube Defects masing-masing 99 kasus, Omphalochele 58 kasus, Atresia ani 50 kasus, dan Gastroschisis 27 kasus.